| Januari 2009 | ||||||
| S | S | R | K | J | S | M |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |
Tujuan utama pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dengan lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta alam semesta (Hadiat, 1996) pengajaran IPA adalah pengajaran yang tidak menuntut hafalan, tetapi pengajaran yang banyak memberikan latihan untuk mengembangkan cara berfikir yang sehat dan masuk akal berdasarkan kaidah-kaidah IPA.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, kosep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari. Proses penekannannya pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (Depdikbud, Panduan Penyusunan KTSP 2006).
Kegiatan pembelajaran melalui pendekatan keterampilan proses siswa dipandang sebagai subjek yang harus aktif dimana siswa banyak memperoleh kesempatan untuk mempelajari materi melalui perbuatan, mengalami sendiri, menemukan dan mengembangkan keterampilan yang diperoleh, sedangkan guru sebagai pembimbing dan fasilitator.
Untuk membantu siswa memahami konsep dan teori maka pembelajaran IPA dianjurkan melibatkan siswa seaktif mungkin. Dengan keterampilan proses dapat mengembangkan pengetahuan konsep yang telah dimiliki siswa dan berupaya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa tidak hanya belajar namun yang lebih penting bagaimana mempelajari fakta, konsep dan prinsip. Ketiganya bukan saja diberikan secara langsung lewat penyajian informasi, melainkan diusahakan oleh siswa untuk mendapatkan konsep atas usahanya sendiri ( Saputro 2000, 151 ) Melalui pendekatan keterampilan proses belajar pada diri siswa yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Pemahaman siswa pada konsep IPA akan lebih mendalam dan kesalahan konsep IPA dapat dihindari.
Guru hendaknya menciptakan pembelajaran yang mengacu kearah pemecahan masalah aktual yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Agar proses belajar mengajar dapat menciptakan suasana yang dapat menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang berkembang secara dinamis kearah positif. Maka diperlukan pemilihan metode yang tepat, berbagai metode yang dpat digunakan dalam pengajaran IPA salah satu metode yang sesuai dan dapat menunjang keterampilan proses adalah metode eksperimen. Kegiatan pembelajaran dengan metode eksperimen memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep sendiri melalui observasi dengan daya nalar, daya pikir dan kreatifitas. Penggunaan metode eksperimen dapat mengembangkan berbagai kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor melalui kegiatan-kegiatan : a) Mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan b) Berusaha mencari dasar teori yang relevan c) Mengamati percobaan d) Menganalisis dan menyajikan data e) Menyimpulkan hasil percobaan f) Mengkomunikasikan hasil percobaan (membuat laporan ).
Pembelajaran IPA di SDN Tekung 02 Lumajang selama ini menggunakan metode ceramah, diskusi tanya jawab, dan bila memungkinkan menggunakan metode demonstrasi. Selama pembelajaran berlangsung siswa kurang aktif sedangkan sebagian yang lain hanya pasif bahkan berbicara dengan teman sebangkunya.
Disinyalir siswa mengalami kesulitan untuk menghubungkan konsep IPA dengan peristiwa sehari-hari indikator ini diketahui ketika diberikan permasalahan yang memerlukan pemecahan dengan konsep yang dimilikinya maupun dalam memberikan contoh peristiwa sehari-hari terhadap konsep yang sedang atau telah dipelajarinya siswa mengalami kesulitan. Kondisi inilah yang menyebabkan belajar kurang bermakna bagi siswa hal ini menimbulkan persepsi bahwa mata pelajaran IPA tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari, keadaan ini dimungkinkan karena siswa tidak memperoleh konsep yang diberikan guru dianggap sebagai informasi biasa dan tidak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, terbukti penggunaan metode eksperimen pada pembelajaran IPA di SDN Tekung 02 Lumajang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu nilai prestasi meningkat dari nilai pre-tes yang rata-rata hanya mencapai 59,5 meningkat pada siklus I menjadi 74,75 dan pada siklus II mencapai 81,50. Dari prestasi belajar yang dicapai siswa pada siklus I yang memenuhi ketuntasan individu terdapat 9 siswa ( 45% ) yang tuntas dan memenuhi ketuntasan individu, 11 siswa (55%) belum memenuhi kriterian ketuntasan individu. Pada siklus II ada 4 siswa (20%) yang belum mencapai ketuntasan individu dan yang telah mencapai ketuntasan individu 16 siswa (80%) menurut ketuntasan kelas sudah dinyatakan tuntas. dan dapat memotivasi siswa untuk belajar. Suasana pembelajaran jadi menyenangkan dan siswa jadi lebih antusias dalam menerima pelajaran. Semoga uraian diatas dapat memberikan inspirasi pada semua guru untuk terus berkreatif dalam mengembangkan metode eksperimen.
test aja
sekolah nya tambah top aja
buk???
ingat donk ma aku erik??????????
alumni siswa sdn tekung 02
pe